SELAMAT DATANG

Selamat datang di blog saya dan selamat melihat b
blog saya

Slide

Loading...

Minggu, 13 Februari 2011

sejarah SMPN 1 Cirebon

Sejarah SMPN 1 Cirebon

Sebagai salah satu murid SMPN 1 harus tahu sejarah berdirinya SMPN 1 Cirebon. Ini dia sejarah SMPN 1 dari sebelum kemerdekaan sampai sekarang (2011) :



1.  ZAMAN PEMERINTAHAN HINDIA BELANDA 1925-1942

Menurut catatan yang dapat ditemukan Kepala Sekolah yang pertama kali menjabat dari tahun 1926 s/d 1037 berarti Sekolah ini dibangun pada Tahun 1925  dengan nama MULO.

Sekolah Menengah Pertama dengan bahasa pengantar bahasa Belanda pada waktu itu didirikan di atas sebidang tanah seluas 6.120 m2 lebih memiliki bangunan : Ruang BP, Ruang Tamu, Ruang Kepala Sekolah, Ruang Kantor, Ruang Kesenian/Gambar ( sekarang dipakai kelas IXA ). Lima buah ruang kelas yang membujur dari Barat ke Timur ( sekarang dipakai ruang kelas IXB. IXC, IXD, IXE, dan IXF ) lima ruang kelas yang membujur dari Utara ke Selatan (sekarang dipakai ruang kelas VIIIA, VIIIB: VIIIC, VIIID, dan VIIA ), Aula dan ruang penjaga sekolah (sekarang kantin ). Rumah Kepala Sekolah ( sekarang dipakai rumah dinas Pemda ).

Adapun nama Kepala Sekolahnya berturut – turut :

1. Vander Mulen                            (1926-1937)

2. Agme                                       (1937-1938)

3. Vander Berg                              (1938 1939)

4. Nona Wear                                (1939-1940)

5. De Yong                                    (1940-1942)



2.      ZAMAN PENDUDUKAN JEPANG ( 1942 - 945 )

Bala Tentara Jepang datang ke Indonesia sangat cepat dibanding dugaan semula. Sekolah yang berbahasa pengantar bahasa Belanda itu secara serentak harus menggunakan pengantar bahasa Indonesia. Pada umumnya baik guru-guru maupun murid lebih mampu menggunakan pendapatnya dalam bahasa Belanda dari pada bahasa Indonesia yang walaupun sudah dicanangkan sejak tahun 1928 di Sekolah Dasar Vervola School ( Sekolah Lanjutan ) yang diajarkan adalah bahasa Melajoe Oemoem.

Guru dan murid sulit belajar bahasa Indonesia, Nippon-go ( bahasa Jepang ). Taiso. ( senam dan kegiatan - kegiatan lain}.

Nama sekolah pun di-Jepang kan dari M.U.L.O menjadi Chu Gakko.

( Chu = Tengah, Gakko - Sekolah )

Pada waktu itu yang menjadi Kepala Sekolah bernama Rd. Adjat Sudrajat.  (1942-1945).

Alumni Chu Gakko inilah yang yang boleh dikatakan menjadi pelopor diadakannya Reuni. Reuni terakhir yang diadakan oleh angkaian Chu Gakko adalah pada 19 Juli 1992 di Wisma Maritim Jalan Tuparev Cirebon.



3.      ZAMAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

1.   Nama SMPN 1 Cirebon

Pemerintah Jepang menyerah kepada Sekutu pada pertengahan  Agustus 1945 dan pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia menjadi Negara Merdeka. Nama atau bahasa Jepang yang cepat diterima oleh rakyat dimasa itu cepat pula dilupakan.

Nama Chu Gakko diubah menjadi Sekolah Menengah Pertama ( SMP Negeri Cirebon ).

Nama SMP Negeri Cirebon bertahan selama sepuluh tahun ( 1945-1955 ). Pada tahun ajaran 1955 pemerintah Republik Indonesia mendirikan sebuah SMP Negeri lagi di Cirebon yang diberi nama SMP Negeri 2 Cirebon dengan demikian sekolah kita menjadi SMP Negeri 1 Cirebon.

Tahun 1994 pemerintah memprogramkan wajib belajar 9 tahun, dengan demikian nama SMP perlu disesuaikan. Melaiui SK Mendikbud No. 034/0 : 97 tanggal 7 Maret 1997 nama SMP diubah menjadi SLTP.



2.   Kepala Sekolah

Dalam kurun waktu 54 tahun ada dua belas Kepala Sekolah yang menjabat di SMP Negeri 1 Cirebon, yakni :

1.       Yuda Kusuma                                                 (1945 -1946 )

2.       A. Pangabean                                                 (1946 -1948) 

3.       Djuhaeni                                                        (1948 -1950) 

4.       M.S. Dasoeki                                                   (1950 -1967) 

5.       Slamet Rahardjo                                              (1967 -1976)

6.       I. Hadi Soerojo                                                 (1976 -1985)

7.       Radiyanto                                                        (1985 - 1986)

8.       Sulan Setiawan                                                 (1986 -1987)

9.       Ratma Suryana                                                  (1987 -1988)

10.     Rd. Suyamin Ilyas                                              (1988 - 1997)

11.     Sukim Marabunta                                               (1997 - 2001)

12.     Drs. Salmon                                                       ( 2001 – Feb 2007)

13.     Drs. Tata Kurniasasmita, MM.                              ( Feb 2007 – Des 2007 )

14.     H. Djaja Kartamihardja S, S. Pd.                         ( Des 2007 – Des 2008 )

15.     Drs. Tusman, M.Pd                                             (2009 - Sekarang)



3. Perkembangan Fisik

Perluasan kesempatan belajar bagi rakyat Indonesia setelah Merdeka cukup pesat. Untuk mendapat gambaran betapa pesatnya perluasan kesempatan belajar itu kita dapat menyimak pertumbuhan SMP Negeri di Kota Cirebon.

Tahun 1925, berdiri sekolah M.U.L.O. Tiga puluh tahun kemudian pemerintah  mendirikan sebuah SMP ( SMP Negeri 2 ). Tahun 1960 berdiri SMP Negeri 3. Sampai dengan awal tahun 1980 ada tambahan  SMP Negeri 4, 5 dan 6. Pada tahun ajaran 1996/1997 jumlah SMP Negeri ada 18  ( jumlah SMP Negeri di Kota Cirebon ada 17, karena SMP Negeri 3 Cirebon masuk Kabupaten ) maka SMP yang berurut No. 18 menjadi SMP Negeri 3. Demikian pula dengan perkembangan fisik SMP Negeri 1 Cirebon, Tahun demi tahun dituntut prasarana yang memadai.

Th. 1950-1967, mendapat tambahan lima buah ruang belajar dari Pemerintah ( sekarang dipakai ruang kelas BPKelas VII F,VIIE, kelas VIIIE  dan VIIIF dari POMG/1962 membangun panggung melengkapi Aula dan WC murid ).

Th. 1967-1976, mendapat tambahan ruang Lab. IPA dari Pemerintah.

Th.    1976-1985, dengan dana Pemerintah dibangun ruang keterampilan dan BP3 membangun 4 buah ruang kelas ( sekarang kelas VIIB. VIIC ). Pembelian tanah seluas 970m2, pagar keliling, lapangan basket, mushola Mujahidin, ruang mencetak soal ( sekarang Perpustakaan Masjid ) ruang Pramuka dan kantin.

Th.    1988-1997, pemerintah menambah ruang perpustakaan .Dari donatur/BP3 membeli 94 M2 tanah untuk perluasan Mushola / Masjid.

Dengan demikian pada saat ini SMP Negeri 1 Cirebon mampu menampung siswa sebanyak 21 kelompok belajar. Kelas VII – 7 kelompok belajar, kelas VIII – 7 kelompok belajar dan kelas IX - 7 kelompok belajar.

Jumlah luas tanah yang dimiliki sesuai dengan sertifikat tanah No 26 tanggal 26 Juni I995 seluas 5.386 M2 +  970 M2 + 94 M2  = 6. 450 M2.

Keadaan bangunan SMP Negeri I Cirebon sudah sangat parah, terutama bangunan yang dibuat Th I925-I975, kayu-kayunya sudah rapuh genteng-gentengnya berjatuhan.



Melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0270/M/I996 bangunan tersebut   diatas  telah   dinyatakan   dihapus   dari   daftar  inventaris   sebagai kekayaan/milik negara. Selanjutnya   melalui   Pejabat   lelang   negara   dengan   Risalah   Lelang   No.365/1997-1998 Tgl. 23 September 1997 bangunan tersebut telah dilelangkan untuk kemudian diatas tanah bangunan tersebut akan dibangun kembali. Hasil pelelangan telah disetor oleh BP3 SMP Negeri 1 Cirebon ke Kantor Lelang Negara Bandung dengan kwitansi  No. KV/-141/RL 365/1/197-98.

Th.1998 - 1999, untuk   mengatasi   kebutuhan   yang   sangat   mendesak. SLTP Negeri  1  Cirebon mendapat bantuan dari dana OPF untuk tambal sulam atap bangunan bagian depan ( R. kelas VII F dan  seluas 400 m2. Kemudian dari dana DBO mandapat 4 ruang kelas yang  dibangun menggantikan R. kelas VII B dan 2 ruang keterampilan , dibangun bertingkat 2 ruang di bawah dan di atas.



Th.2002/2003, sedang dibangun lagi, bangunan bertihgkat menggantikan ruang kelas VII E dan ruang stensil: Ruang bawah untuk kelas VII E dan Ruang BKdan ruang atas untuk kelas VII F dan Ruang komputer. SLTP Negeri 1 Cirebon mampu menampung siswa sebanyak 19 kelompok belajar. Kelas VII = 7 kelompok belajar, Kelas VIII = 6 kelompok belajar, Kelas IX = 6 kelompok belajar.

Th.2003/2004, SLTP Negeri 1 Cirebon menampung 20 rombongan belajar. Kelas VII = 7 rombongan belajar, Kelas VIII = 7 rombongan belajar dan kelas IX = 6 rombongan belajar. Ruang Kelas VII G menempati ruang atas di sebelah Lab. Komputer. Ruang keterampilan belakang dan sanggar Pramuka dibongkar. Dibangun 2 ruang bertingkat berkat bantuan dana dari Pemerintah Kota Cirebon. Ruang kelas VII G dipindahkan dan ruangannya dijadikan ruang Lab. Bahasa.



Bulan  Mei  2003  Ruang  Keterampilan  dan  Sanggar Pramuka dibongkar dibangun bertingkat 2 ruang di bawah dan 2 ruang di atas, bantuan dari Pemda. Ruang bawah untuk kelas VIII.E dan VIII. F. Ruang atas kelas VIII.G dan cadangan ruang kesenian. Sejak tanggal 1 Januari 2004 terjadi perubahan Nomenklatur dari SLTP Negeri 1 Cirebon berubah menjadi SMP Negeri 1 Cirebon.

Th.2004/2005 ,SMP Negeri 1 Cirebon menampung siswa sebanyak 21 rombongan belajar. Kelas VII = 7 rombongan belajar, Kelas VIII = 7 rombongan belajar, Kelas IX = 7

Th. 2005/2006, ruang Kantin : dibongkar. Melalui dana bantuan 3 RKB dari Propinsi .   dibangun : 

1. Gedung tingkat digabung dengan ruang VIII F. Lantai bawah digunakan untuk Sanggar Pramuka. Lantai atas sementara masih belum dimanfaatkan.

2. Ruang Loratorium IPAdirehab, digabung dengan Ruang Perpustakaan, sehingga luas Ruang Laboratorium menjadi 14 x 8,7 M. Untuk sementara kantin menggunakan tempat di sebelah Ruang IX. F.

3. Ruang guru dibongkar melalui dana BlokGrant dibangun Lab. Bahasa Indonesia.

Th. 2006/2007, membeli sebidang tanah seluas 120 M2 melalui dana dari Komite Sekolah dan di bangun Perpustakaan serta Lab. Komputer dengan dana dari LPMP Pusat Jakarta.


Peran Serta Alumni

Pada th.1982 diadakan Reuni yang dihadiri tiga orang mantan Kepala Sekolah, yakni :

A. Panggabean, M.S. Dasoeki dan Slamet Raharjo serta guru-guru pada zaman Jepang antara lain : Moh. Suhud.

Tahun 1991 ada Reuni lulusan th. 1984 - th. 1992. Ada juga Reuni lulusan th. 1970. Pada umumnya dari kegiatan Reuni itu selalu ada sumbangan untuk lebih melengkapi prasarana pendidikan.


Bulan Agustus 2002 lulusan tahun 1950 dalam perjalanan wisatanya singgah ke SLTP Negeri 1 Cirebon. Mereka menumpahkan rasa rindunya dan berkeliling melihat-lihat situasi dan kondisi SMP Negeri 1 Cirebon yang telah mereka tinggalkan selama setengah abad lebih. Mereka juga memberikan sumbangan untuk mesjid sebesar Rp. 2. 000. 000,00.

Tahun 2003 ada reuni angkatan tahun 1976 yang dilaksanakan di Gedung PLN. Sebagai bukti kepedulian kepada almamaternya, mereka memberikan sumbangan SPP untuk siswa tidak mampu, seperangkat sound system, dan kursi untuk ruang pertemuan.

Tahun 2004 ada reuni angkatan tahun 1984 di aula SMP Negeri 1 Cirebon dan memberikan kenang-kenangan berupa 1 set komputer.

Tahun 2007 ada reuni angkatan tahun 1982 di aula SMP Negeri 1 Cirebon dan memberikan kenang-kenangan 1 buah infocus, 1 nuah laptop, dana Marching Band Rp. 2.000.000,00 dan beasiswa untuk 6 orang anak.

Mudah-mudahan para alumni, pemerintah maupun masyarakat terketuk hatinya untuk ikut serta memperkokoh bangunan sekolah tua ini.

Demikian sekilas tentang SMP Negeri 1 Cirebon yang masih terbuka lebar bagi masuknya data yang otentik untuk melengkapinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar